topbella

Saturday, May 5, 2012

Ibumu. . . Kemudian Ibumu. . . Kemudian Ibumu. . .

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Adab Berkunjung

Oleh: Ust Abu Bakr

Diantara sekian sarana yang dapat mempererat ukhuwah dan kasih sayang sesama muslim adalah dengan saling mengunjungi. Pernah suatu ketika seorang pergi mengunjungi saudaranya di desa yang lain. Di tengah jalan, nalaikat yang berwujud manusia bertanya kepadanya, “Mau kemanakah Anda?” Ia menjawab, “Saya ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.” Malaikat itu bertanya lagi, “Apakah anda mempunya suatu keuntungan yang akan diperoleh darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Saya hanya mencintainya karena Allah.” Malaikat itu kemudian berkata, “Saya adalah utusan Allah kepadamu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu.” (HR. Muslim: 2567)

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bertamu atau berkunjung agar berbuah rahmat dan kasih sayang:

Shalatlah Seperti Shalat Orang yang Hendak Berpisah Dengan Dunia


Hadits
Dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.”
(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al HilyahAl Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401)) (1/462) 

Penjelasan Hadits
Alangkah indahnya ketiga wasiat ini. Apabila dijalankan oleh seorang hamba, maka sempurnalah semua urusan dan tentu dia akan berhasil.

Friday, May 4, 2012

Etika Bercakap-cakap


Oleh: Ust Abu Bakr
Manusia tidak akan pernah lepas dari berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Terkadang untuk suatu keperluan dan terkadang juga sekedar basa-basi. Tapi kadangkala adab dalam bercakap-cakap ini diabaikan, sehingga tidak sedikit membuat kesal dan tersinggung lawan bicaranya.
Karena itu, inilah beberapa etika yang perlu diperhatikan agar percakapan kita menjadi berfaedah dan penuh dengan hikmah.
1 Berbicara santun, tidak nyerocos sendiri
Tak jarang ada seorang yang banyak bicara mengenai segala hal tanpa ada manfaatnya, seolah-olah dialah yang paling tahu dan ahli dalam segala bidang. Ia menganggap diamnya orang di depannya menandakan ia kagum dengan pembicaraannya, sehingga ia pun memperpanjangnya. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di akhirat adalah yang terbaik akhlaknya di antara kalian dan yang paling jauh dariku di akhirat adalah yang paling jelek akhlaknya; yang banyak bicara, yang sombong lagi suka mengejek orang.” (HR. Ahmad)
Berkata Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, “Sesungguhnya adab syar’i dan kesopanan menurut kebiasaan orang adalah dengan memberi kesempatan yang lain berbicara, karena mereka semua memiliki bagian untuk itu. Kecuali bagi anak-anak kecil (pemula) dengan orang-orang tua, hendaknya mereka memelihara adab dengan tidak berbicara kecuali sebagai bentuk jawaban untuk yang lainnya.” (Ar-Riyadhah an-Nadhirah)

Monday, April 30, 2012

Nasehat Untuk Suami Istri


Untuk Suami
  • Apa yang memberatkanmu-wahai hamba Allah-untuk tersenyum dihadapan istrimu ketika engkau masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Ta’ala?
  • Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika engkau melihat istri dan anak-anakmu? Engkau akan mendapat pahala
  • Apa sulitnya apabila engkau masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna: “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, agar engkau memperoleh 30 kebaikan?
  • Apakah yang menyusahkanmu jika engkau berkata kepada istrimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhoimu, sekalipun dalam perkataan tersebut  agak sedikit dipaksakan?

Friday, April 6, 2012

Serabi

Bahan I (bahan serabi)
250 gr tepung terigu
250 gr tepung beras
1 sdt baking powder
1 butir telur
3 sdm gula pasir
2 sdm susu bubuk
500 ml santan

Bahan II (bahan kuah)
1 L santan
½ kg gula merah (boleh ditambah gula pasir sesuai selera)
½ sdt garam
1 bks vanili
2 sdm tepung terigu (larutkan dengan air)

Cara Membuat:
Campur semua bahan I aduk hingga licin
Lalu tutup dengan serbet dan diamkan sekitar 1 jam (lebih juga boleh)
Panaskan cetakan serabi yang sudah diolesi mentega (minyak goreng juga bisa)
Masukkan adonan, lalu tutup, panggang hingga masak.
Angkat
Membuat kuah:
Campur santan, gula merah, vanili.
Didihkan sampai gula merah larut
Masukkan tepung terigu yang sudah dilarutkan dengan air
Aduk dan didihkan lagi
Angkat
Serabi siap disantap ^_^

Selamat datang

My photo
Sumatera Utara, Indonesia
Bismillah... Semoga bermanfaat...
 
Shalihah© 2012 Design by Rockville Iwamura