Siapa yang bisa hidup tanpa utang? Ungkapan ini sering kali terdengar
ketika kita berbicara tentang utang piutang. Memang, gaya hidup masa
kini, ditambah berbagai persoalan yang membelit, membuat kita seolah tak
bisa lepas dari praktik berutang dalam berbagai bentuk. Baik untuk
konsumsi pribadi maupun untuk kepentingan usaha.
Namun, tidak banyak orang yang menyadari konsekuensi berat bagi
pengutang. Risiko yang akan ditanggung terutama di akhirat bila utang
itu kelak tak terbayar pun, tak banyak digubris.
Edisi kali ini, mengajak kita untuk menyadari konsekuensi dan risiko utang tersebut.
Edisi kali ini, mengajak kita untuk menyadari konsekuensi dan risiko utang tersebut.
1. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam enggan menyalatkan jenazah orang yang berutang
Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendatangi jenazah seorang laki-laki untuk dishalatkan, maka beliau bersabda, “Shalatkanlah teman kalian, karena sesungguhnya dia memiliki utang.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Apakah teman kalian ini memiliki utang?” Mereka menjawab, “Ya, dua dinar.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mundur seraya bersabda, “Shalatkanlah teman kalian!” Lalu Abu Qatadah berkata, “Utangnya menjadi tanggunganku”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Penuhilah (janjimu)!” Lalu beliau kemudian menyalatkannya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).




